Posted by: afriyanto | December 14, 2010

SMART

Menjadi seorang politisi apalagi seorang pemimpin itu mestilah SMART. Smart dalam bertindak, melihat celah & peluang dan dalam “proyek” pencitraan diri serta komunitas yang “melingkungi” diri. Smart itu berasal dari bahasa Inggris yang berarti rapih, apik dan bersih. Jika dikaitkan dengan tindakan dan perbuatan, Smart itu adalah setiap tindakan yang ujung-ujung-nya bermuara pada ke-apik-an. Jadi Smart itu mensyahkan cara yang illegal mau pun tindakan yang legal demi sebuah proyek pencitraan. Sekelumit tingkah dan tindakan para politisi dan institusi……

KASUS TERORISME: Tanpa bermaksud keberpihakan ke satu instansi atau membela golongan minoritas  kelompok muslim tertentu, Kasus Terorisme di Indonesia termasuk sesuatu  Kasus yang diusahakan Smart. Dimana kebobrokan di suatu sisi sebuah instansi dalam penanganan korupsi misalnya, (Kasus Gayus yang ngga jelas ujung dan muara penyelesaiannya) diimbangi dengan prestasi di bidang yang lainnya dengan konsekuensi mengorbankan golongan tertentu, misalnya juga pemberantasan terorisme. Dengan gelontoran dana negara asing yang sangat besar bernilai ber-jutaan dolar, maka terkadang dibuatlah skenario semacam lingkaran setan yang mana yang mesti  jadi teroris dan yang mana yang menjadi pemburu para teroris dan mesti dibagian mana lingkaran setan  itu mesti diputuskan serta skenario A atau B mana lainnya yang mesti dijalankan. Misalkan Jika terorisme tsb tidak punya link ke Jaringan Teroris International dan mandiri, maka skenario perampokan yang acap dan kerap dilakukan oleh para teroris merupakan  skenario B, yang dianggap diproyeksikan digunakan sebagai penyantun dana… he he..

KASUS YOGYAKARTA: Sang Sultan yang kharisma-nya tidak hanya di wilayah kesultananya-nya tapi juga  bahkan melewati batas teritory-nya yang terbukti dapat mengumpulkan dan “memimpin” asosiasi para Sultan dan Raja di seluruh Indonesia, merupakan sebuah potensi ancaman kelak dan mesti dilemahkan secara sistematis dan kontitusional. Sang Sultan yang menjadi kepala ke-sultan-an sekaligus menjadi kepala pemerintahan diusahakan hanya sebagai simbol dan tidak mempunya akses ke pemerintahan daerah. Dengan ketidakpunyaan akses ke pemerintahan daerah, Sang Sultan tidak akan mempunyai power lagi. Terlebih lagi jika kepala pemerintahan-nya bukan dijabat oleh Sang Sultan. Segitu dulu yee.. nulis nya dari tempat pengasingan… he he..di Indonesia Timur…

ooooooooooooo

Another Hanukkah 2010: First of December, year of 5571




Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: