Posted by: afriyanto | November 6, 2010

Gunung Merapi

Rasanya ngga fair buat penulis demi melihat 2 bencana berbarengan sekaligus di pulau Sumatera dan pulau Jawa, dan hanya membahas Tsunami dan Gempa di Mentawai Island. Sepengetahuan penulis banyak nama gunung yang dinamakan Merapi, diantaranya yaitu di pulau Sumatera, tepatnya di Sumatera Barat, dan yang lagi bergejolak dan menimbulkan korban jiwa, Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Jojakarta dan Jawa Tengah. Sesuai dengan namanya, gunung Merapi pada dasarnya merupakan sebuah gunung yang bersifat aktif (Volcano) yang sewaktu-waktu (sekarang) meletus dan mengeluarkan material yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, seperti lahar, debu, awan panas, dllsbg-nya.

MERAPI – KAB. SLEMAN: Sepertihalnya Mount Everest yang terletak diperbatasan Tibet (China) dan Nepal, Gunung Merapi juga tepat terletak di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Dengan sisi Selatan dari Gunung Merapi menghadap/dan milik DI Yogyakarta, tepatnya bagian dari wilayah kabupaten Sleman. Setting pertama Gunung Merapi yang terjadi pada saat senja tanggal 25 Oktober 2010, ditandai dengan erupsi yang cukup besar dari kawah-nya dan dibarengi dengan keluarnya awan panas yang mematikan yang turun ke kawasan di bawahnya, sekitaran kabupaten Sleman Utara. Pada aksi pertamanya ini, tak kurang 40 nyawa penduduk desa/dusun yang bermukim dibawahnya, termasuk sang Juru Kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan (semoga Allah swt menerima amalannya), menjadi korban keganasan hawa panas yang ditimbulkan akibat awan panas erupsi gunung tersebut.

Topografi Kabupaten Sleman dan Gunung Merapi di utara-nya.

SETTING KE-DUA: Pasca erupsi pertama-nya yang mematikan, Gunung Merapi menunjukkan gejala-gejala yang mencurigakan bakalan terjadi erupsi yang lebih besar dengan ditandainya kerap terjadi erupsi-erupsi dalam skala kecil. Pemerintah telah menetapkan status awas bagi gunung Merapi dan menetapkan zona dalam radius 5 sd 20 km dari puncak gunung Merawi sebagai kawasan yang steril dari penduduk dan jika ada penduduk yang bermukim di sekitaran kawasan radius tersebut mestilah dievakuasi. Jumat dinihari 5 November 2010, Merapi meletus kembali dengan skala erupsi yang lebih besar dan affected area yang diakibatkannya lebih luas dari letusan yang pertama. Tak hanya DI Jogjakarta yang terkena dampak langsung erupsi tersebut, provinsi Jawa Tengah juga terkena dampak-nya. Lebih dari ratusan nyawa melayang akibat erupsi tersebut, belum ditambah kerugian material yang diakibat-kannya, seperti hewan ternak yang binasa, rumah-rumah penduduk dan prasarana infrastruktur yang luluh lantak.

Radius 20 km dari Puncak Gunung Merapi di Peta/Google Earth

GUNUNG MERAPI IN THE FUTURE: Demi melihat dampak dan akibat yang ditimbulkan oleh Gunung Merapi terhadap manusia dan lingkungan disekitarnya, Pemerintah haruslah bertindak cepat, tepat, dan cermat dengan dilandasi ketegasan dengan menerima semua konsekuensi dari policy yang bakalan diterapkan. (1). Untuk wilayah-wilayah yang sudah tersapu oleh awan panas Merapi, mestilah dikosongkan dengan konsekuensi melakukan relokasi permukiman penduduk serta kompensasi yang ditimbulkan akibat policy yang diterapkan. (2), Membuat klasifikasi zonasi kawasan dari level bahaya, cukup berbahya, setengah berbahaya, tidak berbahaya, disekitaran radius gunung Merapi, dengan konsekuensi setiap klasifikasi zona wilayah berbeda dalam tingkat  penyedian  fasilitas prasarana dalam kondisi emergency, terutama jika di zona-zona terdapat permukiman penduduk, (3). Tetap menjaga kelestarian kearifan lokal yang tumbuh berkembang di masyarakat yang bermukim di sekitaran gunung Merapi..

KEARIFAN LOKAL DI GUNUNG MERAPI: Kearifan lokal atau dalam bahasa sehari-seharinya sering disebut pantangan, keramat atau taboo merupakan persepsi budaya lokal sekelompok masyarakat/komunitas terhadap obyek/benda di sekitarannya sebagai sebuah keramat. Untuk konteks Indonesia, kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat banyak berasal dari budaya dan tradisi Hindu, dan sebagian lagi digali dari budaya pagan/dan dinamisme. Pertumbuhan dan pertambahan penduduk yang tinggi setiap tahunnya, berkembangnya Industri menyebabkan kebutuhan akan lahan yang semakin meningkat. Ironisnya, kondisi ini diperparah dengan kelakuan manusia yang melakkan eksploitasi terhadap lingkungan tanpa berusaha melakukan re-newable. Kawasan lereng dan sekitaran puncak Gunung  yang notabene harmful and protected area, bahkan dirambah untuk memenuhi kebutuhan manusia tersebut. Demi dan dengan melihat dampak yang terjadi akibat erupsi gunung Merapi tersebut, akan memperkuat kearifan lokal terhadap gunung tersebut sebagai sesuatu yang sakral. Terlepas dari segalanya, dengan mensakralkan gunung Merapi tersebut, ada beberapa point positif yang bisa diambil, yaitu; terjaminnya keselamatan jiwa manusia dan terjaganya kelestarian lingkungan hidup…. he he segitu aja omong kosong aye

Note: Background penulis bukanlah ahli Geology.


Responses

  1. dulu saya sering banget kemah dikaki gunung merapi gan, sekarang lokasinya dah musnah terendam debu, sayang sekali ya, banyak kenangan indah waktu kemah dan bermalam disana


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: