Posted by: afriyanto | September 27, 2010

Amblas

“Metropolitan Jakarta Amblas”, demikianlah salah satu kondisi yang terkini dari permasalahan dari segudang permasalahan ibukota Jakarta yang sarat dengan penduduk, kendaraan dan infrastruktur pastinya. Amblasnya jalan  raya  R.E. Martadinata sepanjang 100 meter ke laut membuat setiap pengguna jalan di Jakarta merasa khawatir dan was was. Apakah jalan-jalan yang mereka lalui sekarang ini cukup aman untuk dilalui? Apakah kejadian amblas-nya jalan  tersebut, bakal terulang kembali di ruas jalan yang lainnya? Itu masih satu unit infrastruktur, yaitu Jalan. Belum lagi jika kita mengkhawatirkan bakalan amblasnya rumah yang kita huni, Mall tempat kita ber”shopping-ria”, dll.

AMBLAS: Amblasnya jalan R,E. Martadinata pada dasarnya adalah permasalahan teknis akibat perilaku manusia itu sendiri. Jadi jika banyak yang mengkaitkan dengan korupsi dll sejenisnya, itu mah salah besar, karena setiap proyek pekerjaan rekayasa sipil, dimanapun itu dan apapun jenis output yang bakal dibangun, yang namanya korupsi itu pastilah ada. Turunnya air permukaan tanah di sepanjang pantai utara pulau Jawa, khususnya di Jakarta bagian utara, menyebabkan terbentuknya ruang kosong dibawah tanah yang sangat rentan dengan bencana amblasnya permukaan tanah diatasnya. Kondisi ini diperparah, jika wilayah-wilayah yang mengalami penurunan permukaan air tanah itu berada dekat pantai. Interupsi air laut akan merembes ke “ruang kosong” yang telah terbentuk akibat turunnya permukaan air tanah tersebut. Kontruksi bangunan di darat yang tidak “dipersiapkan” untuk kondisi air laut akan mengalami keropos dan lama kelamaan akan membuat pondasi gedung atau bangunan diatasnya rapuh.

KOK BISA TURUN AIR PERMUKAAN TANAH? Mungkin kita perlu berkaca pada diri sendiri, apa yang telah kita lakukan terhadap alam ini, yang salah satunya berpotensi merusak fungsinya. Mungkin tanpa kita sadari, sebenarnya bencana yang terjadi di depan mata, dikarenakan ulah dan kelakuan kita sendiri. Misalnya; pengambilan air tanah yang masih dipraktekkan oleh baik keluarga kecil maupun perusahaan besar, hotel, tempat pelesiran, dll., padahal sudah jelas-jelas ada larangan tersebut. Jadi bencana dan musibah seperti amblasnya jalan raya R.E. Martadinata itu dikarenakan oleh ulah dan kelakuan serta kebiasaan masyarakat sendiri yang tidak menyadari akan merusak lingkungan.

LANGKAH AWAL: Karena bencana dan musibah itu telah terjadi, maka penanganan terhadap sebuah wilayah yang ber”masalah” tentu akan berbeda dengan wilayah yang tak bermasalah. Untuk kasus musibah jalan raya R.E. Martadinata; (1). Perlu gambaran umum dan detail letak dan “ketinggian” penurunan permukaan air tanah di seluruh wilayah Jakarta. (2). Setiap ada rencana pembangunan kontruksi dan infrastruktur baru mestilah menambah spesifikasi untuk mengantisipasi kondisi diatas. (3). Untuk bangunan dan infrastruktur yang telah ada, perlulah semacam fungsi pengawasan dan tindakan pencegahan jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tak teringinkan. (4). Mengurangi bahkan meniadakan perilaku-perilaku dan kebiasaan yang bisa merusak lingkungan, seperti; pengeboran air tanah yang sporadis, terutama oleh perusahaan besar, hotel, apartemen, dll. (5). Tawakal, he he.. siapa tahu takdir musibah itu menimpa kita setiap saat.. he he…….segitu aja uneg uneg..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: