Posted by: afriyanto | July 3, 2009

Tasawuf

Tasawuf merupakan sebuah konsepsi kemuliaan akhlak dan etika yang paling tinggi dalam Islam. Kemuliaan akhlak dalam tasawuf direfleksikan dengan “takluk” dan “cinta” pada sang Khalik dan direalisasikan dengan mencampakkan semua yang berbau ke-duniawi-an. Dunia ini hanyalah fana dan maya, yang abadi dan baka hanyalah Allah swt, destinasi terakhir semua tujuan hidup manusia di bumi ini..

Ketika kita telah memasuki pada phase, melepaskan semua ikatan dan batasan ke-duniawi-an yang selama ini menjadi hambatan, saat itulah merupakan starting point kita menjadi seorang yang Sufi

OMAR IBNU ABDUL AZIZ: Omar ibnu Abdul Aziz merupakan seorang khalifah Islam yang arif dan tawadhu’ yang masih mempunyai garis leluhur dari Umar bin Khatabb. Pada masa kekhalifahan Umar Aziz, Islam mencapai kejayaannya dimana pihak kesultanan sangat peduli akan nasib masyarakat marginal di kala itu. Umar ibnu Abdul Aziz adalah seorang sultan yang suffi. Sang Sultan yang awalnya merupakan putra seorang khalifah dan notabene hidup dalam gemerlap kemewahan duniawi, akhirnya menjadi seorang praktikal sufi ketika menjabat sebagai khalifah Islam.

Sang Khalifah dikenal sangat dekat dengan rakyatnya yang jelata bahkan sampai ke level unit rumah tangga miskin. Konon sang Khalifah melakukan sosial journey pada malam hari untuk mengetahui real conditions rakyatnya dan tidak menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadi atau keluarganya.

ALKISAH: Ada dua cerita menarik dari Hikayat Sufi yang mungkin sudah basi yang diambil dari kisah-kisah Samarqandy; A. Seorang ahli Ibadah yang telah beribadah selama 70 tahun siang-malam dan larut tengah malam kepada Allah swt, telah dicabut nyawa-nya oleh Malaikat Maut. Sang Ahli Ibadah dalam prosesi-nya menuju Allah, bertanya kepada Malaikat Maut yang redaksinya sbb; Ya, Malaikat apakah hamba termasuk umat yang terpilih dengan amalan-amalan ibadah yang telah hamba lakukan selama 70 tahun? Malaikat Maut: Allah tidak menerima amalan ibadah mu yang 70 tahun itu tetapi Allah menerima amalan-mu saat kamu memberikan sepotong roti pada seorang yang sedang kelaparan.

Kisah ke dua B. Seorang Pelacur yang berlumuran dosa, pada saat berjalan di malam hari melihat seekor anjing yang sedang sangat kehausan. Sang Pelacur lalu berinisiatif mengambilkan/menyauk air dari parit dengan alas kaki yang dia gunakan untuk diminum oleh anjing tersebut. Alkisah, sang pelacur meninggal dunia, lalu Allah menyuruh Malaikat Maut untuk menjemput hamba-nya. Sang Malaikat Maut heran dan bertanya,” Bukankah si wanita tersebut seorang pendosa, ya Allah?” “Semua Dosa wanita pendosa itu sudah terhapus dengan amalan-nya memberikan minum pada anjing yang kehausan.”

Dari dua kisah di atas, kisah seorang Ahli Ibadah dan seorang pelacur dapat ditarik sebuah kesamaan aktivitas yang hanya di ridloi Allah swt yaitu: ikhlas. (1). Beribadah selama 70 tahun tanpa keikhlasan nilainya tidak berarti apa-apa dengan memberikan sepotong roti kepada sang fakir. (2). Dan kemaksiatan yang dilakukan oleh para pendosa, dengan ridlo Allah, dapat terhapuskan dengan keikhlasan memberikan minuman air parit (kotor) pada seekor anjing yang sedang kehausan…Wallahu alam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: