Posted by: afriyanto | January 10, 2008

Village Planning

“Village Planning-Village Planning”an…

Saya sempat tertawa terbahak-bahak ketika seorang teman saya, seorang manager teknik di Aceh mengomentari sebuah sketsa masterplan desa, ini mah namanya “village planning-village planning”an….. (komentar dia). Ketawa saya cuman sebentar kok, dengan tampang serius, kita mulai mengecek sketsa masterplan desa tersebut. Tertawa saya yang tadi terbahak-bahak sekarang ada air matanya……Tertawa Terbahak Tertangis Tangis…(terlalu dipaksa supaya awalnya T semua ya… he he………).

INTRODUCTION: Pada dasarnya village planning merupakan kelanjutan dari kegiatan pekerjaan village mapping. Village mapping sendiri merupakan kerangka dasar peta yang digunakan sebagai acuan untuk membuat perencanaan masterplan sebuah desa. Sebuah daerah sampai dibuat village planning-nya, berarti ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi disana. Karna pada dasarnya, untuk sebuah negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, planning wilayah sampai ke level desa sangatlah muskil, karena terbatasnya anggaran. Terkecuali untuk level perkotaan yang wilayahnya merupakan bagian dari kumpulan-desa-desa dalam format Kota.

IDEAL VILLAGE PLANNING: Sebuah village planning yang bagus memiliki komponen village mapping yang benar. Kondisi geologi dan kontur tanah merupakan salah satu instrument yang penting dalam perencanaan master plan yang baik. Ketersediaan peta-peta dasar topografi dalam format skala besar sangatlah mutlak. Misalnya data kontur dan kerapatan kontur suatu daerah sangat diperlukan untuk pertimbangan pembuatan drainase atau saluran irigasi, menghitung besarnya satuan volume timbunan dan galian untuk pekerjaan rekayasa civil, dll. Serta yang paling penting, dari data kontur bisa dilihat topografi ketinggian desa. Untuk desa-desa berbasis pantai, titik-titik tertinggi desa dapat dijadikan acuan tempat buat tempat penyelamatan dini dari sebuah bencana dari laut.

Kondisi geologi sebuah daerah dapat dilihat dari peta geologi wilayah tersebut. Karena peta geologi yang beredar di Indonesia pada umumnya berskala kecil, antara skala 100.000 sd 250.000. Maka perlulah dilakukan perapatan skala peta besar geologi. Perapatan ke skala besar geology dapat dilakukan dengan teknik interpretasi ulang dengan citra satelit dengan acuan dari peta dasar geology. Citra satelit yang bagus biasanya memiliki band-band yang sensitif terhadap geologi permukaan bumi.

Kondisi geologis merupakan syarat mutlak dalam perencanaan sebuah desa. Dari peta geologis, dapat dilihat dan dibuat land suitability dan land selection. Hal ini sangat penting, misalnya untuk perencanaan sebuah bangunan atau peruntukkan kawasan atau lahan mestilah diketahui terlebih dahulu kondisi geologis wilayah bersangkutan.

ASPEK NON TEKNIS:Aspek non teknis sebuah desa untuk village planning sangatlah penting. Setiap desa biasanya memiliki karakter dan khas desa itu sendiri. Typikal karakter desa-desa tepi pantai pasti berbeda jauh dengan desa-desa di daratan atau pegunungan. Juga karakter desa-desa dipinggiran kota besar berbeda dengan desa-desa di pedalaman atau remote area. Data-data pokok desa seperti, inkome penduduk, tingkat melek, sumber mata pencaharian utama, dll. Disamping itu, posisi desa tersebut dalam wilayah adminstrasi yang lebih luas dan lebih tinggi, dan bisa digambarkan dalam peta administrasi wilayah, dan sebaiknya diinsetkan dalam masterplan. Kajian sosologis dan antropologis desa serta diskusi yang intensif dengan native lokal diperlukan untuk hal ini.

FINDING: Kebanyakan temuan village planning di lapangan adalah masalah ketidak akuratan data, terutama posisi dan ukuran geometrik polygoon yang digambarkan pada peta perencanaan. Hal ini pada umumnya disebabkan karena kurang baiknya pada saat pelaksanaan village mapping. Yang sederhana misalnya, orientasi arah peta, yang mana utara yang mana selatan terkadang tidak diketemukan di planning. Sementara di kultur masyarakat tertentu, arah menghadap rumah biasanya merupakan pertanda baik dan buruk. Dan banyak hal lagi..belum lagi misalnya informasi kondisi jalan yang tersedia, bagaimana dan seperti apa tidaklah jelas, bagaimana bahan dan material bangunan akan masuk ke lokasi, sementara medannya masih seperti kawasan perang..

KESIMPULAN: Kegiatan Village Planning seharusnya dilakukan berbarengan dan bersamaan dengan kegiatan lainnya, disamping itu dalam perencanaan sebuah desa harus mempunyai skala prioritas mana yang lebih dahulu yang diutamakan. Disamping itu, urutan kerja yang benar (prosedural) mestilah diterapkan. Village planning tanpa kerangka dasar acuan dari village mapping yang benar, akan menghasilkan output yang sia-sia alias useless.

Tersedianya sarana dan infrastruktur serta transportasi menuju ke lokasi village mestilah ada dan mestilah terbangun terlebih dahulu. Serta parameter waktu dan cost akan play the important role dalam hal ini. Dan yang lebih penting dan paling utama adalah partisipasi dari masyarakat setempat yang divillage-planningi itu.. (Tulisan ini kepanjangan buat saya….)

 

Contoh Sketsa Village Planning Kurang Standard

Responses

  1. Bagus, untuk membantu referensi untuk sebagiandari pekerjaan saya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: