Posted by: afriyanto | December 12, 2007

TATARUANG

PERBEDAAN MENGHITUNG LUAS WILAYAH

Tulisan ini semacam ilustrasi bagaimana permasalahan teritorial wilayah sendiri, kita masih terbelenggu oleh ketidaksamaan data, apalagi masalah ketidakakuratan data. Terutama data-data yang berkaitan dengan luas sebuah wilayah. Padahal luas sebuah wilayah dapat dijadikan prediksi awal dalam perencanaan pemekaran sebuah wilayah. Sehingga kabupaten induk yang ditinggalkan, wilayahnya masih proporsional. Dan yang utama adalah pemekaran wilayah tidak meninggalkan masalah, seperti yang terjadi pada pemekaran Kab. Bengkulu Selatan, yang dimekarkan menjadi Kab. Seluma, Kab. Kaur, dan Kab. Bengkulu Selatan sebagai kab. induk. Dimana kabupaten induk merasa wilayahnya semakin kecil dan berkurang, bahkan lebih kecil dari kabupaten-kabupaten baru yang dimekarkan dari induknya.

Dibawah ini semacam ilustrasi dari rencana pemekaran Kabupaten Jayawijaya, Papua menjadi 5 (lima) kabupaten. Dimana data-data dari Pemda setempat setelah dianalisa ulang terdapat perbedaan yang mencolok dengan data hasil digitasi lab.

LUAS WILAYAH DAN PERBEDAAN

KABUPATEN INDUK: Luas Wilayah Kabupaten Jayawijaya menurut TAPEM Jayawijaya sebelum pemekaran;

A. Data PEMDA Jayawijaya: 15,440 km2.
B. Luas dari program Software ACAD: 17,729.2 km2.

Terdapat perbedaan sekitar 2,000 km2. (Luas areal dihitung berdasarkan peta dari Pemda setempat, diregistrasi ulang dan didigitasi di CAD dalam proyeksi UTM).

LUAS WILAYAH KABUPATEN INDUK PASCA PEMEKARAN: Perbedaan besar adalah prediksi luas wilayah Kabupaten Jayawijaya pasca pemekaran dari sumber PEMDA setempat dan data digitasi ACAD.

1. PEMDA: Luas 8,496 km2
2. ACAD : Luas 2,512. km2 (Nah lho.. perbedaan luas lk; 6,000 km2..?)

ANALISA KAB. JAYAWIJAYA

Dari perhitungan luas kab. Jayawijaya, terlihatlah bahwa pada saat rencana pemekaran dan pengeplotan wilayah-wilayah distrik mana yang akan dimasukkan atau dipertahankan ke kabupaten-kabupaten baru dan induk, masihlah berupa plotan perkiraan di atas kertas. Dan ironisnya kabupaten induk, Jayawijaya, merasa bahwa wilayahnya yang tersisa masih berkisar separuh dari wilayahnya semula sebelum pemekaran. Padahal wilayah baru, Jayawijaya Induk, hasil pemekaran itu berkurang dari 17,729.2 km2 menjadi 2,512 km2, bukan 15,440 km2 menjadi 8,496 km2. Atau dengan kata lain, kabupaten induk Jayawijaya setelah pemekaran, berkurang wilayahnya menjadi satu per tujuh atau 14% (empat belas persen) dari luas wilayah semula. Hal ini bisa dibuktikan dengan membandingkan peta wilayah sebelum dan sesudah pemekaran kabupaten.

Catatan: Area luas wilayah yang dihitung merupakan area luas pendekatan, dengan mengganggap permukaan bumi datar (planimetris) tanpa memperhitungkan kondisi topografi wilayah. Perhitungan luas yang lebih akurat mungkin dapat dilakukan dengan perhitungan luas permukaan dengan model 3D.

Catatan 2: Perhitungan luas bisa berbeda-beda antara satu software dengan software lainnya, atau antar satu instansi dengan instansi lainnya. Namun yang ditekankan disini adalah ratio akhir dari luas wilayah yang berbeda jauh.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: