Posted by: afriyanto | November 29, 2007

Village Mapping & Planning NAD

VILLAGE MAPPING:
MEREKONSTRUKSI ULANG POSISI DESA-DESA DAN KECAMATAN DI PETA: ASPEK SPATIAL DAN GEOMETRIS, PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Village Mapping merupakan salah satu proses dari kegiatan Perencanaan Wilayah suatu daerah pada level unit administrasi pemerintah terendah/terkecil. Seperti Desa-desa, Kampung, Nagari (Sumatera Barat) dll. Village mapping merupakan peta kerja awal yang benar untuk kegiatan perencanaan wilayah desa, Village Planning. Pada dasarnya Peta-peta yang dihasilkan pada kegiatan Village Mapping, haruslah:
1. Memiliki Sistem Datum dan Sistem Proyeksi Peta
2. Memiliki detail spasial (baik itu unsur alam dan buatan, manmade) unsur di permukaan bumi. Seperti; sungai, jalan, perumahan, dll. Detail spasial ini nantinya dikaitkan dengan resolusi spasial yg diinginkan.
3. Memiliki ketinggian atau kontur. Ketinggian dan kontur sangatlah diperlukan untuk pekerjaan yang bersifat civil engineering. Interval kontur yang dihasilkan sangat penting untuk detail desain kontruksi yang akan dihasilkan. Serta perencanaan cost fee untuk sebuah kawasan.

4. Peta village Mapping sebaiknya memiliki tata batas administrasi desa yang jelas dan kalau dimungkinkan dibuat tata batas yang permanen. Hal ini sangat diperlukan untuk perencanaan permukiman dan kawasan peruntukkan lainnya, sehingga tidak akan terjadi konflik pertanahan di masa mendatang.
5. Peta yang dihasilkan pada kegitan village mapping biasanya peta-peta berskala besar.
6. Verifikasi lapangan, verivikasi ke lapangan sangatlah penting untuk mengadjustifikasi unsur-unsur spasial yang tertera di peta. Perubahan nama-nama kampung, penambahan infrastruktur, batas administrasi dapat dilihat pada saat survey verifikasi lapangan.

Salah satu kegiatan dari village mapping adalah merekonstruksi kembali peta-peta desa menjadi peta dasar desa yang benar. Untuk suatu daerah, hendaklah diterapkan sistem referensi dan standard datum yang sama dalam kegiatan pemetaannya. Penerapan ini sangat diperlukan untuk mengintegrasikan seluruh peta-peta yang dihasilkan serta peta-peta yang dibuat oleh unit-lain. Sistem yang dipakai di Indonesia pada saat ini adalah Sistem Proyeksi UTM dan Datum WGS 84. Sebagian instansi menggunakan sistem TM4.

Sumber utama dari peta-peta desa ini sebaiknya peta dasar rupabumi. Pada peta dasar ini, semua unsur spasial di permukaan bumi ditampilkan, termasuk ketinggian dan kontur. Peta peta dasar yang baik adalah peta-peta yang di generate dari source yang memiliki resolusi spasial dan ketinggian yang tinggi. Penggunaan photo udara sangat dianjurkan dalam proses ini.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: