Masuknya Brunei Darussalam ke daftar 5 besar negara-negara ber GNP per kapita tertinggi di Dunia per September 2010, terkadang membuat miris. Kenapa mesti miris? Negeri yang cuman sepenggal kecil dan tidak lebih luas dari pulau Bali ini, yang terletak di Kalimantan Utara tersebut , tidak jauh beda dengan wilayah Indonesia lainnya dan karakteristik wilayahnya temasuk sumber daya alam dan penduduknya, berhasil ber”optimalisasi” menjadi salah satu negeri yang terkaya dengan GNP per-kapita yang super wah di Dunia.
Sources: Internet
UU: Brunei Darussalam itu pada dasarnya merupakan 2 wilayah yang terpisah daratan Serawak Malaysia dan berbentuk kantung hurup UU. Lepas dari protektorat British, Brunei Darussalam bergabung dengan persekutuan negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) yang saat itu beranggotakan 5 negara menjadi 6 negara. Negara mungil yang mayoritas penduduk-nya ber-etnis Melayu dan beragama Islam ini merupakan penghasil minyak dan gas bumi yang cukup besar. Devisa yang sangat besar dihasilkan dari Migas ini dipergunakan untuk kemakmuran masyarakat Brunei sehingga banyak fasilitas umum yang digratiskan di negara tersebut, seperti; pendidikan, kesehatan, dll. Terlepas dari semua hal-hal yang baik tentang Brunei, hanya satu hal yang masih dirasakan kurang di Brunei, yaitu sistem Monarchi Kesultanan Absolut-nya yang sangat kental.
CREATIONS OF ANOTHER “BRUNEI” IN INDONESIA’S KALIMANTAN: Wilayah Kalimantan Indonesia yang mirip dengan Brunei cukuplah banyak diketemukan, terutama di bagian timur Kalimantan yang terkenal dengan sumber daya alamnya yang kaya dan melimpah ruah. Dimulai dari (1). Kotabaru dan (2). Tanjung di Kalimantan Selatan, terus ke utara (3). Balikpapan plus Pasir Penajam, (4). Kutai Pantai (Muara Badak, Muara Jawa, dll), (5). Bontang plus Sangatta, (6). Tarakan plus Bunyu di Kalimantan Timur. Yap, Eastern area of Borneo Indonesia is famous of his rich natural resources.
TRIGGER: Meskipun teori-teori pusat-pusat pertumbuhan (kutub-kutub pertumbuhan) sudah lama ditinggalkan dan dipertentangkan dengan alasan tidak meratanya penyebaran pembangunan dan banyak yang tidak berhasil ketika diterapkan di lapangan (red; Indonesia) (misal; kasus per-KAPET-an, dll), namun membangun dan memajukan sebuah wilayah yang relatif kecil dan penduduk yang terbatas dan didukung potensi sumber daya alam yang luar biasa dirasakan cukup efektif. Wilayah-wilayah ini dipacu pembangunannya dan dibiarkan berkembang pesat sehingga menjadi trigger bagi wilayah-wilayah disekitarnya dalam kemajuan ekonomi. Dengan dukungan sistem dan manajemen yang professional (tanpa korupsi pastinya), wilayah-wilayah yang karakteristiknya mirip Brunei di Kalimantan Indonesia itu dapat tumbuh pesat.
Toh..meskipun wilayah-wilayah tersebut hanyalah secakup area kecil bagai setitik nila di daratan Kalimantan, jika terjadi dibanyak titik kemajuan, akan membentuk sebuah garis dan area yang cukup luas..(Basi.. he he)..

Recent Comments